More

    Beraksi Berlebihan Lebih Baik Daripada Tidak Sama Sekali

    Kecepatan penyebaran Virus COVID-19 (SARS CoV-2) telah menjadi konsen kesehatan masyarakat global. Ilmu epidemologi terkait dengan wabah COVID-19 merupakan hal yang baru, di mana virus-virus yang menyerang sistem pernafasan ini awalnya merupakan penyakit penularan dari hewan kepada manusia. Virus COVID-19 adalah virus corona manusia ke-tiga yang ditemukan pada abad ke-21 ini.
    Sebagian besar infeksi yang diakibatkan oleh COVID-19 berupa keluhan ringan hingga sedang yang biasanya sembuh secara spontan, meskipun ada kekhawatiran yang lebih besar jika penyakit tersebut menyerang kelompok rentan seperti orang tua dan orang dengan penyakit penyerta (penyakit kronis). Kenyataan tersebut menarik perhatian yang sangat besar terutama pada aspek epideminya yang baru dan dampaknya yang massif.
    Perkembangan yang baru dari penyakit ini menyebar secara global dalam hitungan menit, di mana media sosial dan sumber berita yang informal telah menjadi jembatan utama dalam penyebaran informasi-informasi yang salah dan rumor-rumor tentang Covid-19.

    Fokus, Komunikasi yang Efektif dan Membangun Kepercayaan adalah Kunci Utama.
    Kemampuan intervensi sederhana dan sistematis seperti deteksi dini (rapid case detection), pelacakan kontak, karantina, seperti yang dilakukan di China dianggap cukup efektif dalam meredam laju penyebaran virus COVID-19.
    Namun intervensi ini hanya dapat dilaksanakan jika fokus, menciptakan komunikasi yang efektif dan membangun kepercayaan bersama antara lembaga pemerintah (public health) dan masyarakat. Rumor dan informasi yang keliru dapat merusak komunikasi dan kepercayaan, bahkan dapat memicu kecurigaan, ketakutan, panik dan bahkan memunculkan stigma, yang pada akhirnya membantu mendorong penyebaran penyakit infeksi tersebut.

    Pembelajaran dari Zhejiang
    Prof. Xifeng Wu, MD, PhD seorang Dekan dan Professor di School of Public Health, Zhejiang University, Hangzhou, China menjelaskan bagaimana cara China menghadapi wabah COVID-19. Beliau menekankan bahwa cara terbaik dalam menghadapi wabah adalah memberikan kepercayaan yang tinggi kepada ilmu pengetahuan terutama para ahli di bidang virus dan kesehatan masyarakat. Pendekatan inilah telah dilakukan oleh Pemerintah Republik Rakyat China (RRC). Belajar dari pengalaman RRC, dari 40.000 orang lebih terinfeksi, hanya 20% pasien yang memerlukan penangganan serius dari pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan, 80%-nya tidak memerlukan penangganan (medical treatment).
    Menurut Prof. Xifeng, provinsi Zhejiang merupakan provinsi pertama yang langsung memberlakukan kondisi darurat pada awal-awal wabah COVID-19 menyebar di RRC. Pemerintah Provinsi Zheijiang dengan berani mengambil keputusan yang “Cepat, Tepat Waktunya, Tepat Tempatnya, dan Tepat Orangnya”. Berikut ini beberapa keputusan “cepat dan tepat” pemerintah provinsi Zheiyang yang terasa berlebihan namun mampu mengurangi penyebaran wabah tersebut sedini mungkin.

    1. Menyediakan petunjuk yang jelas tentang Lock-down yang diberlakukan di kota mereka
    2. Memastikan posisi masing-masing individu, rumah, apartemen, komunitas masyarakat, organisasi, dan fasilitas public bisa di-tracking dengan pasti sehingga ini akan sangat membantu pemerintah dalam melacak setiap pergerakan yang ada di kota mereka.
    3. Memastikan suplai makanan masyarakat tetap terpenuhi dan ini dikontrol oleh pemerintah.
    4. Membentuk rumah sakit rujukan dan memastikan rumah sakit tersebut memiliki fasilitas untuk mengisolasi, memonitor, dan mengobati pasien yang positif COVID-19.
    5. Membentuk sistem perekaman dan pelacakan secara elektronik untuk memudahkan Tim Respon Cepat menangani pasien yang dilakukan non-stop (7 Hari, 24 Jam).
    6. Sistem pelaporan yang terpusat sehingga masyarakat mudah dalam mendapatkan informasi terbaru terkait perkembangan wabah COVID-19.
      Beberapa aksi yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Zheiyang sudah ada yang kita adopsi, namun memastikan semua berjalan sesuai dengan rencana lebih penting. Selain itu, Prof. Xifeng Wu juga menggaris bawahi pentingnya, kecepatan dan akurasi dalam mengindentifikasi pasien positif COVID-19. Big data dan sistem informasi teknologi juga harus dikembangkan serta didukung oleh sumberdaya tenaga medis yang memadai dan terlindungi. Prof. Xifeng Wu juga menekankan perlunya upaya pencegahan dalam sebuah komunitas masyarakat, sekolah, tempat kerja, dan rumah untuk mengurangi penyebaran wabah COVID-19.

    Tanggung Jawab Individu
    Di samping itu membangung tanggung jawab individu merupakan hal yang penting dalam mengelola situasi infeksi virus COVID-19, karena tindakan tersebut dapat menentukan apakah rantai transmisi berhasil dihentikan atau justru melebar dan membesar.
    • Menyampaikan pesan sederhana namun efektif seperti himbauan mencuci tangan secara teratur dapat menurunkan risiko infeksi pada diri sendiri dari paparan virus yang tidak disengaja melalui kontak dengan permukaan dan selanjutnya kontak dengan wajah.
    • Menhindari berpergian ke tempat-tempat keramaian, terutama yang berada di lingkungan tertutup dengan ventilasi alami yang tidak memadai.
    • Jika sakit, minimalkan interaksi dengan orang lain.
    • Hindari perjalanan yang tidak penting ke tempat-tempat yang dilaporkan memiliki kasus sebaran/transmisi.
    • Bertanggung jawab secara sosial dalam berbagi informasi yang akurat dan berbasis bukti di media sosial, dan menghindari memulai atau meneruskan laporan berita yang tidak diverifikasi atau berita palsu.
    • Berusaha mendapatkan informasi dan perkembangan terbaru terkait dengan situasi di sekitar tempat anda.
    • Berhati-hatilah bahwa situasi krisis ini dapat berlanjut untuk waktu yang lebih lama, sehingga tetap berusaha mempertahankan kebiasaan pribadi yang baik seperti olahraga teratur dan nutrisi yang tepat untuk memperkuat kondisi kesehatan mental dalam menghadapi krisis global ini.
    Sejauh ini, penyebaran COVID-19 telah berdampak di banyak negara, hingga pada level komunitas. Ada beberapa proyeksi yang telah dilakukan oleh para ahli pemodelan epidemiologi mengenai dampak terhadap populasi antisipasi yang dapat dilakukan, jika tida ada pengendalian yang efektif atau vaksin yang layak dan aman, sebagian besar populasi global dapat terinfeksi.

    Disarikan oleh Alfi Rahman, PhD dan Ibnu Rusydy, M.Sc.:
    Peneliti di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala.
    https://www.weforum.org/agenda/2020/03/coronavirus-covid19-global-academics-insights-pandemic

    Berita Terbaru

    Balitbangkes Pusat: Akurasi Lab Infeksi USK 100%

    Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Pusat  (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan laporan hasil uji konfirmasi laboratorium untuk...

    Tim Satgas Covid-19 USK Kunjungi Walikota Banda Aceh

    Tim Satuan Tugas Covid-19 Universitas Syiah Kuala melakukan kunjungan ke Pendopo Walikota Banda Aceh. Tim Satgas Covid-19 USK ini dipimpin oleh Rektor...

    Kasus Covid-19 masih Tinggi, Unsyiah Perpanjang Kuliah Daring

    Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng memutuskan untuk memperpanjang kegiatan perkuliahan daring di Unsyiah sampai bulan Desember 2020. ...

    Unsyiah Kumpulkan Peneliti Dunia di ICVAES Bahas Solusi Covid-19

    Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan konferensi 2nd International Conference on Veterinary, Animal, and Environmental Sciences (ICVAES 2020)  yang menghadirkan para ilmuwan atau ahli one...

    Rektor Unsyiah: Aceh Perlu Batasi Aktivitas demi Cegah Penyebaran Covid-19

    Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan pemerintah Aceh perlu menerapkan aturan tegas yaitu membatasi aktivitas di luar...

    Info Terkait

    Leave A Reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Stay on op - Ge the daily news in your inbox